PENGANTAR
INTELIGENSI
A.
DEFINISI INTELIGENSI
jkkecerdasan, kepandaian dan juga
kemampuan memecahkan masalah yang sedang dihadapi seseorang. Inteligensi juga merupakan
salah satu topik yang banyak diteliti dalam ranah psikologi, literatur ilmiah
berkembang pada jurnal-jurnal penelitian (Gregory, 2013). Definisi inteligensi
masih terus berkembang hingga kini, beberapa ahli memiliki sudut pandang yang
berbeda namun pada dasarnya tidak mengandung perbedaan arti yang tajam.
Pada awal perkembangan teori
inteligensi, kemampuan mental seringkali dikaitkan dengan faktor fisik seperti
penginderaan (sensasi) dan persepsi. Perkembangan selanjutnya pandangan yang
bersifat fisikal bergeser ke arah yang lebih bersifat mentalistis. Hal tersebut
nampak dari definisi inteligensi yang dirumuskan beberapa ahli berikut ini.
Spearman (1904)
Inteligensi
merupakan kemampuan umum yang melibatkan sebagian besar pengembangan relasi dan
hubungan timbal balik.
Alfred
Binet & Theodore Simon (1857 – 1911)
Inteligensi terdiri dari 3
komponen, yaitu :
·
Kemampuan
untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan
·
Kemampuan
untuk mengubah arah tindakan bila tindakan telah dilaksanakan
·
Kemampuan
untuk mengkritik diri sendiri (autocriticism)
L.
W Terman (1916)
Inteligensi adalah kemampuan
seseorang untuk berfikir secara abstrak, merupakan kapasitas membentuk konsep
dan memahami signifikansinya.
Pintner
(1921)
Inteligensi merupakan kemampuan
individu beradaptasi dengan situasi yang relatif baru dalam kehidupan.
Thorndike
(1921)
Inteligensi adalah kemampuan
dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.
Thurstone
(1921)
Inteligensi merupakan kapasitas
untuk menghambat penyesuaian naluriah, membayangkan berbagai respon secara
fleksibel, dan merealisasikan penyesuaian naluriah yang telah dimodifikasi
menjadi perilaku yang nyata.
David Wechsler (1939)
Inteligensi
adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk
·
Bertindak
dengan tujuan tertentu,
·
Berfikir
secara rasional, serta
·
Menghadapi
lingkungannya dengan efektif
Humphreys (1971)
Inteligensi
adalah sederetan keterampilan, pengetahuan, pembelajaran, dan kecenderungan
generalisasi – yang dianggap intelektual secara alamiah – yang ada pada suatu
periode waktu tertentu.
Piaget (1972)
Inteligensi
merupakan istilah umum untuk mengindikasikan bentuk superior dari organisasi
atau keseimbangan struktur kognitif yang digunakan untuk beradaptasi dengan
lingkungan fisik dan sosial.
Sternberg (1985a, 1986)
Inteligensi
adalah kapasitas mental untuk mengolah informasi secara otomatis dan
menghasilkan perilaku yang sesuai secara kontekstual sebagai tanggapan terhadap
hal-hal baru.
Eysenck (1986)
Inteligensi
merupakan transmisi informasi yang dilakukan tanpa kesalahan melalui korteks.
Gardner (1986)
Inteligensi
merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah atau membuat produk yang bernilai
dalam lingkup kultural.
Ceci (1994)
Inteligensi
merupakan kemampuan bawaan yang berlipat ganda sebagai barisan kemampuan yang
dapat berkembang tergantung pada motivasi dan keterbukaan dan pengalaman
belajar yang relevan.
Sattler (2011)
Perilaku
inteligensi mencerminkan kemampuan bertahan hidup suatu spesies yang
berasosiasi dengan proses dasar fisiologis.
B. PENDEKATAN DALAM MEMAHAMI
INTELIGENSI
Menurut Maloney dan Ward (dalam
Azwar, 2004) terdapat 4 pendekatan yang digunakan dalam memahami hakikat
inteligensi, yaitu :
1) Pendekatan Teori Belajar
Inteligensi merupakan perilaku yang
berisi proses belajar sebagai respon dari
tuntutan luar & interaksi dgn lingkungan. Inteligensi dinilai dengan norma relatif, bukan sifat
kepribadian (trait), oleh karena itu para ahli lebih memusatkan perhatiannya pada perilaku
yang tampak. Menurut para ahli
tori belajar, inteligensi sangat dipengaruhi lingkungan. Lingkungan belajar sendiri menentukan
relativitas inteligensi individu.
2) Pendekatan Neurobiologis
Inteligensi memiliki dasar
anatomis biologis, perilaku inteligen menurut pendekatan ini dapat ditelusuri
dasar-dasar neuroanatomisnya dan proses neurofisiolgisnya. Oleh karena itu,
dalam berbagai riset selalu dipentingkan untuk melihat korelasi-korelasi
inteligensi pada aspek-aspek anatomi, elektrokimia, atau fisiologi. Pendekatan
neurobiologis menimbulkan berbagai teori inteligensi yang mengaitkan perilaku
inteligensi serta ciri-cirinya dengan aspek biologis.
3) Pendekatan teori-teori
psikometri
Ciri utama dari pendekatan ini
adalah adanya anggapan bahwa inteligensi merupakan suatu konstruk atau sifat
psikologis yang berbeda-beda kadarnya bagi setiap orang. Pendekatan ini lebih
tertarik pada pengukuran psikometris, fokus pada cara praktis untuk melakukan
klasifikasi dan prediksi berdasarkan hasil pengukuran dari pada meneliti
hakikat inteligensi itu sendiri. Ada 2 arah studi dalam pendekatan ini yaitu yang
bersifat praktis dan menekankan pada pemecahan masalah, sementara yang kedua
lebih menekankan pada konsep dan penyusunan teori. Pendekatan inilah yang
melahirkan berbagai skala pengukuran yang menjadi awal pengukuran saat ini
4) Pendekatan teori-teori perkembangan
Studi inteligensi dikaitkan
dengan tahap-tahap perkembangan biologis, sehingga lebih bersifat kualitatif,
berbeda dari pendekatan psikometris yang bersifat kuantitatif dan melihat kaitan tingkatan inteligensi
dengan tingkatan usia tertentu.
C. TEORI-TEORI INTELIGENSI
Apabila
dikategorikan menurut faktor-faktor yang menjadi elemen inteligensi, maka
teori-teori inteligensi dapat digolongkan menjadi 3 golongan. Yang pertama
adalah teori-teori yang berorientasi pada faktor tunggal, yang kedua adalah
teori yang berorientasi pada dua faktor, dan yang ketiga berorientasi pada
faktor ganda. Berikut akan disajikan teori-teori inteligensi menurut
tokoh-tokoh yang mengemukakan :
|
Inteligensi berkembang dari
faktor umum (g) yang sejalan dengan proses kematangan.
Inteligensi sebagai sesuatu
yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan
menilai teingkat perkembangan individu berdasar suatu kriteria tertentu
Untuk melihat seseorang
cukup inteligen atau tidak dapat diamati dari caranya melakukan suatu
tindakan dan mengubah arah tindakan itu apabila perlu
|
(1857-1911)
|
Inteligensi terdiri atas berbagai
kemampuan spesifik (s) yang ditampakkan dalam wujud perilaku inteligen.
Inteligensi? 3 btk
kemampuan, yaitu kemampuan abstraksi (kemampuan untuk bekerja dengan
menggunakan gagasan dan simbol-simbol), kemampuan mekanik (kemampuan
untuk bekerja dengan menggunakan alat-alat mekanis dan kemampuan yang
memerlukan aktivitas, indera gerak (sensori motor)), kemampuan sosial
(kemampuan untuk menghadapi orang lain di sekitar diri sendri dengan
cara-cara yang efektif).
Tingkat inteligensi
tergantung pada banyaknya neural connection karena adanya penguatan
(reinforcement).
|
Charles
E Spearman
|
Terkenal dengan teori 2
faktor
• Berangkat dari analisi
korelasional terhadap skor seperangkat tes yang mempunyai tujuan dan fungsi
ukur berlainan
• Inteligensi mengandung
dua komponen
– Eduksi relasi: kemampuan
menemukan hubungan dasar diantara dua hal. co: panjang-pendek
– Eduksi korelasi:
kemampuan menerapkan hubungan dasar yg telah ditemukan kedalam situasi
baru, co: panjang-pendek:hitam-…………
• Disamping itu, Spearman
juga mengemukakan lima prinsip kuantitatif dalam kognisi yaitu:
a. Energi mental: setiap
fikiran cenderung untuk menjaga total output kognitif simultannya dalam
kuantitas yang tetap walau bagaimanapun variasi kualitatifnya
b. Kekuatan menyimpan:
terjadinya peristiwa kognitif menimbulkan kecenderungan untuk terulang
kembali
c. Kelelahan: terjadinya
peristiwa kognitif menimbulkan kecenderungan untuk melawan terulangnya
peristiwa tersebut
d. Kontrol konatif:
intensitas kognisi dapat dikendalikan oleh konasi (motivasi)
e. Potensi primordial:
setiap manifestasi dari keempat prinsip kuantitatif terdahulu akan dirimbun
di atas potensi awal individu yang bervariasi
|
Teori mereka dapat digolongkan dalam teori faktor
ganda
Dari hasil studi yang mereka lakukan dengan
intensif, Thurstone menyusun tes kemampuan primer Chicago dan menguraikan 6
faktor kemampuan yaitu verbal, number, spatial, word fluency, memory,
reasoning.
V: verbal (pemahaman akan hubungan kata, kosa
kata, dan penguasaan komunikasi lisan
N: Number ( kecermatan dan kecepatan dalam penggunaan
fungsi-fungsi hitung dasar
S: Spatial (kemampuan untuk mengenali berbagai
hubungan dalam bentuk visual)
W: Word Fluency ( kemampuan untuk mencerna
kata-kata tertentu dengan cepat)
M: Memory (kemampuan mengingat gambar-gambar,
pesan-pesan, angka-angka, kata-kata, dan bentuk-bentuk pola)
R: Reasoning ( kemampuan untuk mengambil
kesimpulan dari beberapa contoh, aturan, atau prinsip. Dapat juga diartikan
sebagai kemampuan pemecahan masalah)
Cyril Burt
|
Faktor-faktor
kemampuan merupakan suatu kumpulan yang terorganisasikan secara hirarkis
berdasar kompleksitas kognitifnya. Kemampuan mental terbagi atas beberapa
faktor yang berada pada faktor yang berada pada tingkatan faktor yang
berbeda, yaitu faktir umum (general), faktor-faktor kelompok besar (broad
group), faktor-faktor kelompok kecil (narrow group), dan faktor-faktor
spesifik (specific)
Dasarnya
pertimbangan analitis faktor luar bukan proses induktif yang berasal dari
studi empiris.
|
P.E Vernon
|
Termasuk kategori faktor g.
Seperti teori Burt, teori ini mengemukakan pola model hirarkis. Puncak
hirarki adalah faktor g, di bawahnya terdapat 2 jenis kelompok kemampuan
mental yang disebut verbal educational dan practical mechanical. Kedua
jenis kemampuan ini termasuk dalam faktor inteligensi yang utama, masing2
terbagi dalam faktor kelompok minor yang terpecah menjadi bermacam faktor
spesifik pd tk hirarki paling rendah.
Vernon berpendapat bahwa
faktor umum lebih konsisten dan substansial
dengan kmasalah kehidupan sehari-hari
|
J.P Guilford
Teorinya terkenal dg Structure of Intellect (SI)
yang diilustrasikan dalam bentuk kubus tiga dimensi yang masing-masing mewakili
satu klasifikasi faktor-faktor intelektual yang bersesuaian satu sama lain.
Dimensi pertama adalah isi (content) yang terdiri dari figur, simbol, semantik,
dan perilaku. Dimesi kedua adalah operasi, terurai dalam 5 proses yaitu
kognisi, ingatan, produksi konvergen, produksi divergen, dan evaluasi. Dimensi
ketiga adalah produk, terurai dalam 6 jenis yaitu satuan, kelas, relasi,
sistem, transformasi dan implikasi. Dengan demikain menurut masing-masing
dimensi terdapat 120 macam kombinasi yang merupakan faktor berlainan.
C. Halstead
Pendekatan yang digunakan dalam teori ini adalah
neurobiologis. Ada 4 faktor inteligensi, yaitu : a.) Faktor Central Integrative
(C) Ã kemampuan
untuk mengorganisasikan pengalaman, b.) Faktor Abstraction (A) Ã merupakan
kemampuan mengelompokkan sesuatu dengan cara-cara yang berbeda, dan kemampuan
untuk melihat kesamaan dan perbedaan., c.) Faktor Power (P) Ã merupakan
kekuatan otak, daiantaranya adalah kemampuan mengekang afeksi sehingga
kemampuan relasional dan intelektual dapat tumbuh berkembang., d.) Faktor
Directional (D) Ã kemampuan
memberikan arah dan sasaran bagi kemampuan individu.
D.O. Hebb
Inteligensi dibedakan atas 2 macam yaitu : Inteligensi A (merupakan kemampuan dasar
manusia untuk belajar dari lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan
tersebut, dipengaruhi oleh gen) dan Inteligensi B (merupakan tingkat kemampuan
yg diperlihatkan oleh seseorang dalam bentuk perilaku yang dapat diamati secara
langsung, merupakan kemampuan aktual). Apabila membicarakan masalah IQ maka
membicarakan masalah inteligensi yang merupakan bagian dari inteligensi B.
R.B Cattel
Cattel mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi
2 macam yaitu:
·
Inteligensi fluid (gf) Ã faktor bawaan
biologis, tidak berubah setelah usia 14-15 tahun
·
Inteligensi crystallized (gc) Ã merefleksikan
pengaruh pengalaman, pendidikan, dan kebudayaan, masih terus berkembang sampai
usia 40-50 tahun.
Jean Piaget
Menekankan pada aspek perkembangan kognitif, anak
yg berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif. Piaget lebih melihat inteligensi
pada aspek isi, struktur dan fungsinya, sesuai dengan periodisasi perkembangan
biologis anak. Periodisasi ini terbagi atas :
·
Tahap sensori motor
Dikenal juga
sebagai practical intelligence. Seorang anak dapat belajar untuk berbuat
sesuatu meski ia belum mampu memikirkan perbuatan itu.
·
Tahap pra operasional
Adanya cara
berfikir intuitif à memungkinkan
anak memahami berbagai tugas kompleks, namun belum mampu gunakan logika. Cara
berfikir egosentris à tdk mampu
lihat masalah dari sudut pandang orang lain. Cenderung menempatkan sifat
manusia pada benda mati. Masih diperlukan petunjuk eksternal yang membimbing
untuk melakukan tugas tertentu.
·
Tahap operasional konkret
Bentuk operasi
nyata dalam tahap ini adalah konversi (perubahan dapat terjadi secara bolak-balik)
dan klasifikasi (mampu melihat bermacam hubungan yang terjadi antar benda dan
melakukan penggolongan).
·
Tahap operasional formal
Mampu berpikir
hipotetik dan mampu menguji secara sistematik berbagai penjelasan mengenai
kejadian tertentu. Mampu berpikir secara abstrak.
Howard Gardner
Merumuskan teori inteligensi ganda (multiple intelligence),
mengidentifikasi 8 macam inteligensi yaitu :
·
Inteligensi linguistik
·
Inteligensi matematik-logis
·
Inteligensi spasial
·
Inteligensi musik
·
Inteligensi kinestetik
·
Inteligensi interpersonal
·
Inteligensi intrapersonal
·
Inteligensi naturalistik
Robert J. Sternberg
Terkenal dengan teori inteligensi triarchic,
berusaha menjelaskan secara terpadu hubungan antara : a.) Inteligensi dengan
dunia internal seseorang/mekanisme mental yang mendasari perilaku intelegen.,
b.) Inteligensi dengan dunia eksternal seseorang/mekanisme mental sehari-hari
guna mencapai kesesuaian dengan lingkungan., c.) Inteligensi dan pengalaman,
atau peranan perantara antara dunia internal dan eksternal. Subteori dalam
teori tsb adalah konteks, pengalaman dan komponen. Konteks à perilaku
inteligen sesuai budaya tertentu, Pengalaman à kemampuan
individu dalam memberikan respon terhadap situasi baru, Komponen à pentingnya
efektivitas pengolahan informasi.
Komponen inteligensi manusia terorganisasikan atas
metakomponen, komponen performansi, komponen penerimaan pengetahuan.
C. IQ (INTELLIGENCE QUOTIENT)
Tinggi rendahnya inteligensi dapat
dilihat dengan menterjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka, sehingga
dapat dijadikan petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila
dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma.
Angka normatif dari hasil tes
inteligensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient)
dan disebut Intelligence Quotient (IQ).
Istilah Intelligence Quotient
diperkenalkan pertama kali oleh William Stern pada tahun 1912. Rumus awal
(dihitung dr hasil tes BINET) :
IQ=
MA/CA x 100
MA
= usia mental
CA = usia kronologis
100 = angka konstan untuk menghindari bilangan
desimal
Karena adanya keterbatasan validitas
utk usia dewasa, muncul perumusan IQ deviasi yang dihitung berdasarkan norma
kelompok (dilakukan pada Skala Weschler). Rumusnya :
Skor
standar=m+s [(X-M)/sx]
m
= skor standar yg diinginkan
s
= deviasi standar yg diinginkan
X
= skor mentah yg akan dikonversikan
M
= mean distribusi skor mentah yg diperoleh
sx
= deviasi standar skor mentah yg diperoleh
Selama berpuluh tahun, angka 100
telah ditetapkan sebagai mean IQ, hal tersebut diambil untuk melanjutkann
kebiasaan menafsirkan IQ 100 sebagai pertanda tingkat inteligensi normal.
Wechsler menggunakan mean sebesar 100 dan SD=15, sedangkan tes Binet menggunakan
mean=100, SD=16.
Berikut merupakan distribusi IQ
untuk kelompok pada tes Binet :
|
IQ
|
Klasifikasi
|
|
160-169
150-159
140-149
|
Sangat Superior
|
|
130-139
120-129
|
Superior
|
|
110-119
|
Rata-rata atas
|
|
100-109
90-99
|
Rata-rata
|
|
80-89
|
Rata—rata bawah
|
|
70-79
|
Borderline
|
|
60-69
50-59
40-49
30-39
|
Mentally retarded
|
Berikut merupakan distribusi IQ pada
tes Wechsler :
|
KLASIFIKASI
|
:
|
IQ
|
|
Very Superior
|
:
|
>130
|
|
Superior
|
:
|
120
- 129
|
|
Rata - Rata
Atas
|
:
|
110
- 119
|
|
Rata - rata
|
:
|
90
- 109
|
|
Rata - rata
Bawah
|
:
|
80
- 89
|
|
Boderline
|
:
|
70
- 79
|
|
Mentally
retarded
|
:
|
<
69
|
D. SEJARAH PENGUKURAN
INTELIGENSI
Adanya kesadaran untuk memperlakukan
manusia secara individual sesuai dengan kapasitas dan potensinya masing-masing
dalam pendidikan dan pekerjaan membuat pengukuran inteligensi dirasakan sangat
penting (Azwar, 2004). Upaya untuk melakukan pengukuran inteligensi telah
dimulai oleh beberapa pihak di beberapa negara.
Pengukuran Inteligensi di Cina
Di Cina, pada abad XIV muncul adanya
usaha untuk mengukur kompetensi pelamar jabatan pegawai negara. Untuk dapat
diterima, pelamar harus mengikuti ujian tertulis mengenai pengetahuan Confucian classics, kemampuan menulis
puisi, dan komposisi karangan. Ujian ini berlangsung sehari semalam di tingkat
distrik. Kurang dari 7% pelamar yang biasanya lulus tingkat distrik kemudian harus
mengikuti ujian berikutnya yang berupa menulis
prosa
dan sajak. Pada ujian kedua, kurang dari 10% peserta yang lulus. Ujian tingkat
akhir diadakan di Peking, dan hanya 3% yang lulus pada ujian tersebut. Sehingga
dari ketiga tahap ujian tersebut hanya 5 diantara 100.000 pelamar yang akhirnya
mencapai status mandarin. Baru pada abad XIX ujian semacam itu mulai
dihilangkan sejalan dengan pesatnya kemajuan universitas-universitas (Azwar,
2004).
Pengukuran Inteligensi oleh
Cattel di Amerika
Pada belahan bumi yang lain, usaha pengukuran
intelegensi berkembang dalam kurun waktu yang kurang lebih serempak di Amerika
Serikat dan Perancis. Di Amerika, usaha pertama tersebut dimulai oleh tokoh
pencetus istilah “tes mental”, yaitu James McKeen Cattell (1860-1944) yang
menerbitkan buku mental test and
measurements di tahun 1890. Buku tersebut berisi serangkaian tes
intelegensi yang terdiri atas 10 jenis ukuran, yaitu:
1) Dinamometer
pressure,
yaitu ukuran kekuatan tangan menekan pegas yang dianggap sebagai indikator aspek
psikofisiologis.
2) Rate
of movement,
yaitu kecepatan gerak tangan dalam satuan waktu tertentu yang dianggap memiliki
komponen mental didalamnya.
3) Sensation
areas, yaitu
pengukuran jarak terkecil diantara 2 tempat yang terpisah di kulit yang masih
dapat dirasakan sebagai 2 titik berbeda.
4) Pressure
causing pain,
yaitu pengukuran yamg dianggap berguna dalam diagnosis terhadap penyakit saraf
dan dalam mempelajari status kesadaran abnormal.
5) Least
noticabele difference in weight,
yaitu pengukuran perbedaan berat yang terkecil yang masih dapat dirasakan
seseorang.
6) Reaction
time for sound,
yang mengukur waktu antara pemberian stimulus dengan timbulnya reaksi tercepat.
7) Time
for naming colors,
yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap proses yang lebih ”mental” daripada
waktu-reaksi yang dianggap reflektif.
8) Bisection
of a 50-cm line,
yang dianggap sebagai suatu ukuran terhadap akurasi “space judgment”.
9) Judgment
of 10 second time,
yang dimaksudkan sebagai ukuran akurasi dalam “time judgment” (subjek diminta menghitung 10 detik tampa bantuan
apapun).
10) Number
of letters repeated upon once hearing,
yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap perhatian dan ingatan (subjek diminta
mengulang huruf yang sudah disebutkan 1x).
Pengukuran Inteligensi di
Perancis (Skala Binet-Simon)
Di Perancis, Alfred Binet
direktur laboratorium di Universitas Sorbonne memulai suatu usaha pengukuran
inteligensi dengan menggunakan metode Paul Broca, yaitu dilakukan dengan cara mengukur
lingkaran tempurung anak-anak (metoda kraniometri). Cara tersebut selanjutnya
diragukan dan pada tahun 1904 Binet kembali memulai usaha pengukuran
inteligensi, namun Binet tidak lagi menggunakan pendekatan kraniometri namun
membuat alat baru yang dirancang untuk mengukur ketajaman bayangan, ketahanan
dan kualitas perhatian, ingatan, kualitas penilaian moral dan estetika, dan
kecakapan kesalahan logika serta memahami kalimat-kalimat. Hal tersebut
dilakukan karena adanya kebutuhan yang mendesak saat Ia diminta oleh menteri
Pengajaran Umum Perancis untuk meneliti masalah anak yang memiliki kelemahan
mental di sekolah-sekolah di Paris. Apabila anak-anak tersebut dapat dideteksi
keadaannya lebih awal maka dapat disediakan program khusus yang lebih efektif (Azwar,
2004).
Skala inteligensi yang pertama
tersebut diciptakan oleh Binet dan dokter sejawatnya Theodore Simon.
Skala Binet-Simon seringkali dikenal dengan nama Skala 1905 terdiri atas 30
soal. Pada perkembangannya skala Binet-Simon direvisi beberapa kali, yang kedua
dilakukan pada tahun 1908 dengan memperbanyak soal dan membuang soal yang
kurang baik serta dikelompokkan menurut tingkat usia. Skala 1908 tersebut
banyak dibaca dan menarik perhatian para ahli di dunia dan diterjemahkan dalam
berbagai bahasa. Revisi ketiga terbit pada tahun 1911, pada tahun kematian
Binet. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1916 Lewis Madison Terman di
Stanford University Amerika melakukan revisi dengan menambah jumlah soal
menjadi 90 soal dan mencakup tes untuk usia 3-14 tahun. Sejak itu skala
Stanford-Binet menjadi standar dalam Psikologi klinis, psikiatri dan konseling
pendidikan.
Adanya kelemahan pada dasar
pembuatan norma penilaian yang dilakukan Terman, pada tahun 1937 Terman dan Maude
A. Merril bekerjasama melakukan revisi untuk menegakkan normanya. Edisi ini
diperluas penggunaannya meliputi usia 2 tahun sampai pada tingkat yang disebut
Dewasa-Superior I, II dan III. Revisi penting selanjutnya terjadi pada tahun
1960 dimana mulai digunakan konsep IQ-deviasi dari Wechsler, dengan cakupan
angka mulai 30-170. Mean sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 15 atau 16.
Kemudian skala Stanford-Binet yang semula terdiri dari dua bentuk paralel yaitu
form L dan form M dijadikan hanya satu bentuk saja yang dinamai Form L-M. Sementara
versi terbaru Skala Stanford Binet yang hingga kini kita gunakan adalah skala
yang diterbitkan pada tahun 1986 (Azwar, 2004). Pada revisi di tahun 1986
terhadap skala Stanford binet, konsep inteligensi dikelompokkan menjadi empat
tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes, yaitu: penalaran
verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak dan memori jangka
pendek.
Skala-skala Wechsler
Setelah 34 tahun diterbitkanya tes
intelegensi yang pertama oleh Binet-Simon, David Wechsler memperkenalkan versi 1
tes intelegensi yang dirancang khusus untuk digunakan orang dewasa. Tes
tersebut terbit pada tahun 1939 dan dinamai Wechsler-Bellevue
intelegent scale (WBIS), disebut juga skala W-B. Terbitnya skala tersebut
mulanya digunakan pada pasien klinis di Rumah Sakit Bellevue New York City.
Alasan pengembangan didasarkan atas kenyataan bahwa tes intelegensi yang
digunakan untuk orang dewasa saat itu hanya merupakan perluasan dari tes intelegensi
untuk anak-anak- dengan menambahkan soal yang sejenis yang lebih sukar.
Sehingga isi tesnya seringkali tidak menarik minat dan perhatian orang dewasa.
Pada tahun 1949 Wechsler menerbitkan pula skala intelegensi untuk digunakan
pada anak-anak, yang diberi nama WISC (Wechsler
Intelligence Scale for Children) yang terdiri dari dua sub bagian yaitu sub
bagian Verbal (V) dan Performance(P). Pada tahun 1955,
Wechsler menyusun skala lain untuk mengukur inteligensi orang dewasa yang
dinamai WAIS (Wechsler Adult Intelligence
Scale) yang berisi 11 subtes terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama adalah
skala verbal yang berisi 6 subtes, dan bagian kedua adalah skala performansi
yang berisi 5 subtes.
Tes Inteligensi Kelompok
Sejalan dengan perkembangan tes
intelegensi individual yaitu yang dikenakan pada subjek secara individual,
mulai pula dirasakan perlunya tes intelegensi yang dikenakan pada sekelompok
individu secara serentak atau tes kelompok. Tes intelegensi kelompok dapat
dikenakan dengan cepat dan diskor serta dapat diinterpretasikan dengan cepat
pula mulai dirancang oleh para ahli. Seperti halnya penyusuna Skala Binet-Simon
yang pertama, penyusunan tes inteligensi kelompok juga dipicu oleh kebutuhan
praktis yang mendesak di masa perang dunia I. Pada waktu itu APA (American Psychological Association) membentuk
komite untuk mencari cara agar psikologi dapat memberikan bantuan bagi Amerika
dalam perang. Robert M. Yerkes kepala komite tersebut membantu untuk
mengatasi kebutuhan akan cara klasifikasi yang cepat terhadap tenaga wajib
militer menurut tingkat inteligensi umum mereka. Arthur S. Otis yang
merupakan mahasiswa dari Terman berkontribusi besar dalam penyusunan dua bentuk
tes inteligensi yang dapat dikenakan pada banyak subjek sekaligus. Tes pertama
dirancang untuk tes inteligensi rutin yang dinamai Army Alpha. Tes kedua berupa
skala non verbal yang dirancang bagi individu buta huruf dan wajib militer yang
bukan kelahiran Amerika, yang dinamai Army Beta.
E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTELIGENSI
Seperti halnya atribut lain dalam
diri manusia, faktor yang menentukan inteligensi juga menuai kontroversi.
Apakah inteligensi ditentukan faktor bawaan (genetik) atau faktor lingkungan?
Pada dasarnya kedua faktor tersebut memiliki pengaruh terhadap inteligensi
seseorang :
·
Faktor
bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa
korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar
0,50, sedangkan di antara 2 anak kembar,
korelasi nilai tes IQ nya sangat
tinggi, mencapai sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang di adopsi. IQ mereka berkorelasi antara
0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang
sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang
dibesarkan secara terpisah, IQ mereka
tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mereka tidak pernah saling kenal (Azwar, 2004).
·
Faktor
Lingkungan
Meskipun ada ciri-ciri yang
pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, namun lingkungan sanggup menimbulkan
perubahan-perubahan yang berarti. Intelegensi tentunya tidak bisa terlepas dari
otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain
gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan
juga memegang peranan yang amat penting.
F. RAGAM TES INTELIGENSI
Menurut
banyaknya testee, tes inteligensi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu tes
inteligensi individual dan tes inteligensi klasikal. Tes inteligensi individual
diadministrasikan secara individual sehingga sangat berguna untuk studi yang
mendalam tentang seseorang, namun demikian membutuhkan waktu yang cukup panjang
(biasanya sekitar 2 jam) serta biaya yang cukup besar untuk penyajiannya. Untuk
dapat mencapai hasil tes yang valid, tes individual membutuhkan tester yang
handal dan terlatih. Tes inteligensi kelompok dapat diadministrasikan dalam
kelompok, sehingga dapat dikenakan dengan cepat dan dapat diskor dan
diinterpretasikan dengan cepat. Selain itu tes inteligensi juga dapat
dikategorikan menurut usia testee, yaitu tes inteligensi anak dan tes
inteligensi dewasa.
Berikut merupakan beberapa macam
alat tes inteligensi ditinjau dari jenis penyajian dan peruntukannya :
·
Tes
inteligensi individual untuk subjek anak
Stanford-Binet Intelligence
Scale
Wechsler Inteligence scale for
children-revised/WISC-R
Wechsler Preschool and Primary
Scale of Intelligence (WPPSI)
Kauffman Assesment Battery for
Children (K-ABC)
Kaufman Brief Inteligence Test
(K-BIT)
·
Tes
inteligensi individual untuk subjek dewasa
Wechsler adult intelligence scale
revised (WAIS-R)
Wechsler Bellevue Intelligence Scale
(WBIS)
Kaufman Adolesent And Adult
Inteligence Test (KAIT)
Kaufman Brief Inteligence Test
(K-BIT)
·
Tes
inteligensi klasikal/kelompok untuk anak-anak
Coloured Progressive Matrices
(CPM)
·
Tes
inteligensi klasikal/kelompok untuk subjek dewasa
Standard progressive Matrices (SPM)
Advanced Progressive Matrices (APM)
Culture Fair Intelligence Test
(CFIT)
Intelligence Structure Test (IST)
Tes Inteligensi Umum (TIU) 5, 6
Tes Inteligensi Kolektif Indonesia
(TIKI)
Wonderlich Personnel Test (WPT)
Bernard Leopold Intelligence Test
(BLIT)
Army Alpha
Army Beta
Beta 3
Tes Kemampuan Diferensial (TKD)
Tes Inteligensi Umum (TINTUM)
Tes Inteligensi Dewasa Indonesia
(TIDI)
REFERENSI
Azwar,
S. (2004). Pengantar psikologi
inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gregory,
R.J.(2013). Tes psikologi: Sejarah,
prinsip, dan aplikasi jilid 1 edisi keenam (penerjemah Amitya Kumara).
Jakarta: Erlangga