Senin, 26 Oktober 2015



PENGANTAR INTELIGENSI



A. DEFINISI INTELIGENSI

jkkecerdasan, kepandaian dan juga kemampuan memecahkan masalah yang sedang dihadapi seseorang. Inteligensi juga merupakan salah satu topik yang banyak diteliti dalam ranah psikologi, literatur ilmiah berkembang pada jurnal-jurnal penelitian (Gregory, 2013). Definisi inteligensi masih terus berkembang hingga kini, beberapa ahli memiliki sudut pandang yang berbeda namun pada dasarnya tidak mengandung perbedaan arti yang tajam.
            Pada awal perkembangan teori inteligensi, kemampuan mental seringkali dikaitkan dengan faktor fisik seperti penginderaan (sensasi) dan persepsi. Perkembangan selanjutnya pandangan yang bersifat fisikal bergeser ke arah yang lebih bersifat mentalistis. Hal tersebut nampak dari definisi inteligensi yang dirumuskan beberapa ahli berikut ini.
Spearman (1904)
Inteligensi merupakan kemampuan umum yang melibatkan sebagian besar pengembangan relasi dan hubungan timbal balik.
Alfred Binet & Theodore Simon (1857 – 1911)
Inteligensi terdiri dari 3 komponen, yaitu :
·         Kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan
·         Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan telah dilaksanakan
·         Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri (autocriticism)
L. W Terman (1916)
Inteligensi adalah kemampuan seseorang untuk berfikir secara abstrak, merupakan kapasitas membentuk konsep dan memahami signifikansinya.
Pintner (1921)
Inteligensi merupakan kemampuan individu beradaptasi dengan situasi yang relatif baru dalam kehidupan.
Thorndike (1921)
Inteligensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.
Thurstone (1921)
Inteligensi merupakan kapasitas untuk menghambat penyesuaian naluriah, membayangkan berbagai respon secara fleksibel, dan merealisasikan penyesuaian naluriah yang telah dimodifikasi menjadi perilaku yang nyata.
                                                                                                                                                                                                            David Wechsler (1939)
Inteligensi adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk
·         Bertindak dengan tujuan tertentu,
·         Berfikir secara rasional, serta
·         Menghadapi lingkungannya dengan efektif
Humphreys (1971)
Inteligensi adalah sederetan keterampilan, pengetahuan, pembelajaran, dan kecenderungan generalisasi – yang dianggap intelektual secara alamiah – yang ada pada suatu periode waktu tertentu.
Piaget (1972)
Inteligensi merupakan istilah umum untuk mengindikasikan bentuk superior dari organisasi atau keseimbangan struktur kognitif yang digunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik dan sosial.
Sternberg (1985a, 1986)
Inteligensi adalah kapasitas mental untuk mengolah informasi secara otomatis dan menghasilkan perilaku yang sesuai secara kontekstual sebagai tanggapan terhadap hal-hal baru.
Eysenck (1986)
Inteligensi merupakan transmisi informasi yang dilakukan tanpa kesalahan melalui korteks.
Gardner (1986)
Inteligensi merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah atau membuat produk yang bernilai dalam lingkup kultural.
Ceci (1994)
Inteligensi merupakan kemampuan bawaan yang berlipat ganda sebagai barisan kemampuan yang dapat berkembang tergantung pada motivasi dan keterbukaan dan pengalaman belajar yang relevan.
Sattler (2011)
Perilaku inteligensi mencerminkan kemampuan bertahan hidup suatu spesies yang berasosiasi dengan proses dasar fisiologis.

B. PENDEKATAN DALAM MEMAHAMI INTELIGENSI
            Menurut Maloney dan Ward (dalam Azwar, 2004) terdapat 4 pendekatan yang digunakan dalam memahami hakikat inteligensi, yaitu :
1)      Pendekatan Teori Belajar
            Inteligensi merupakan perilaku yang berisi proses belajar sebagai respon            dari tuntutan luar &  interaksi dgn lingkungan. Inteligensi dinilai           dengan norma relatif, bukan sifat kepribadian (trait),        oleh karena             itu para ahli lebih memusatkan perhatiannya pada perilaku yang           tampak. Menurut para ahli tori belajar, inteligensi sangat dipengaruhi       lingkungan.    Lingkungan belajar sendiri menentukan relativitas        inteligensi individu.
2)      Pendekatan Neurobiologis
Inteligensi memiliki dasar anatomis biologis, perilaku inteligen menurut pendekatan ini dapat ditelusuri dasar-dasar neuroanatomisnya dan proses neurofisiolgisnya. Oleh karena itu, dalam berbagai riset selalu dipentingkan untuk melihat korelasi-korelasi inteligensi pada aspek-aspek anatomi, elektrokimia, atau fisiologi. Pendekatan neurobiologis menimbulkan berbagai teori inteligensi yang mengaitkan perilaku inteligensi serta ciri-cirinya dengan aspek biologis.
3)      Pendekatan teori-teori psikometri
Ciri utama dari pendekatan ini adalah adanya anggapan bahwa inteligensi merupakan suatu konstruk atau sifat psikologis yang berbeda-beda kadarnya bagi setiap orang. Pendekatan ini lebih tertarik pada pengukuran psikometris, fokus pada cara praktis untuk melakukan klasifikasi dan prediksi berdasarkan hasil pengukuran dari pada meneliti hakikat inteligensi itu sendiri. Ada 2 arah studi dalam pendekatan ini yaitu yang bersifat praktis dan menekankan pada pemecahan masalah, sementara yang kedua lebih menekankan pada konsep dan penyusunan teori. Pendekatan inilah yang melahirkan berbagai skala pengukuran yang menjadi awal pengukuran saat ini
4)      Pendekatan teori-teori perkembangan
Studi inteligensi dikaitkan dengan tahap-tahap perkembangan biologis, sehingga lebih bersifat kualitatif, berbeda dari pendekatan psikometris yang bersifat            kuantitatif dan melihat kaitan tingkatan inteligensi dengan tingkatan usia tertentu.



C. TEORI-TEORI INTELIGENSI

            Apabila dikategorikan menurut faktor-faktor yang menjadi elemen inteligensi, maka teori-teori inteligensi dapat digolongkan menjadi 3 golongan. Yang pertama adalah teori-teori yang berorientasi pada faktor tunggal, yang kedua adalah teori yang berorientasi pada dua faktor, dan yang ketiga berorientasi pada faktor ganda. Berikut akan disajikan teori-teori inteligensi menurut tokoh-tokoh yang mengemukakan :
Inteligensi berkembang dari faktor umum (g) yang sejalan dengan proses kematangan.
Inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai teingkat perkembangan individu berdasar suatu kriteria tertentu
Untuk melihat seseorang cukup inteligen atau tidak dapat diamati dari caranya melakukan suatu tindakan dan mengubah arah tindakan itu apabila perlu

Alfred Binet
(1857-1911)
 Inteligensi terdiri atas berbagai kemampuan spesifik (s) yang ditampakkan dalam wujud perilaku inteligen.
Inteligensi? 3 btk kemampuan, yaitu kemampuan abstraksi (kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan gagasan dan simbol-simbol), kemampuan mekanik (kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan alat-alat mekanis dan kemampuan yang memerlukan aktivitas, indera gerak (sensori motor)), kemampuan sosial (kemampuan untuk menghadapi orang lain di sekitar diri sendri dengan cara-cara yang efektif).
Tingkat inteligensi tergantung pada banyaknya neural connection karena adanya penguatan (reinforcement).


 Charles E Spearman                    
Terkenal dengan teori 2 faktor
• Berangkat dari analisi korelasional terhadap skor seperangkat tes yang mempunyai tujuan dan fungsi ukur berlainan
• Inteligensi mengandung dua komponen
– Eduksi relasi: kemampuan menemukan hubungan dasar diantara dua hal. co: panjang-pendek
– Eduksi korelasi: kemampuan menerapkan hubungan dasar yg telah ditemukan kedalam situasi baru, co: panjang-pendek:hitam-…………
• Disamping itu, Spearman juga mengemukakan lima prinsip kuantitatif dalam kognisi yaitu:
a. Energi mental: setiap fikiran cenderung untuk menjaga total output kognitif simultannya dalam kuantitas yang tetap walau bagaimanapun variasi kualitatifnya
b. Kekuatan menyimpan: terjadinya peristiwa kognitif menimbulkan kecenderungan untuk terulang kembali
c. Kelelahan: terjadinya peristiwa kognitif menimbulkan kecenderungan untuk melawan terulangnya peristiwa tersebut
d. Kontrol konatif: intensitas kognisi dapat dikendalikan oleh konasi (motivasi)
e. Potensi primordial: setiap manifestasi dari keempat prinsip kuantitatif terdahulu akan dirimbun di atas potensi awal individu yang bervariasi

L.L Thurstone & T.G Thurston
Teori mereka dapat digolongkan dalam teori faktor ganda
Dari hasil studi yang mereka lakukan dengan intensif, Thurstone menyusun tes kemampuan primer Chicago dan menguraikan 6 faktor kemampuan yaitu verbal, number, spatial, word fluency, memory, reasoning.
V: verbal (pemahaman akan hubungan kata, kosa kata, dan penguasaan komunikasi lisan
N: Number ( kecermatan dan kecepatan dalam penggunaan fungsi-fungsi hitung dasar
S: Spatial (kemampuan untuk mengenali berbagai hubungan dalam bentuk visual)
W: Word Fluency ( kemampuan untuk mencerna kata-kata tertentu dengan cepat)
M: Memory (kemampuan mengingat gambar-gambar, pesan-pesan, angka-angka, kata-kata, dan bentuk-bentuk pola)
R: Reasoning ( kemampuan untuk mengambil kesimpulan dari beberapa contoh, aturan, atau prinsip. Dapat juga diartikan sebagai kemampuan pemecahan masalah)


Cyril Burt
Faktor-faktor kemampuan merupakan suatu kumpulan yang terorganisasikan secara hirarkis berdasar kompleksitas kognitifnya. Kemampuan mental terbagi atas beberapa faktor yang berada pada faktor yang berada pada tingkatan faktor yang berbeda, yaitu faktir umum (general), faktor-faktor kelompok besar (broad group), faktor-faktor kelompok kecil (narrow group), dan faktor-faktor spesifik (specific)
Dasarnya pertimbangan analitis faktor luar bukan proses induktif yang berasal dari studi empiris.
 
P.E Vernon
Termasuk kategori faktor g. Seperti teori Burt, teori ini mengemukakan pola model hirarkis. Puncak hirarki adalah faktor g, di bawahnya terdapat 2 jenis kelompok kemampuan mental yang disebut verbal educational dan practical mechanical. Kedua jenis kemampuan ini termasuk dalam faktor inteligensi yang utama, masing2 terbagi dalam faktor kelompok minor yang terpecah menjadi bermacam faktor spesifik pd tk hirarki paling rendah.
Vernon berpendapat bahwa faktor umum lebih konsisten dan substansial  dengan kmasalah kehidupan sehari-hari
 
J.P Guilford

Teorinya terkenal dg Structure of Intellect (SI) yang diilustrasikan dalam bentuk kubus tiga dimensi yang masing-masing mewakili satu klasifikasi faktor-faktor intelektual yang bersesuaian satu sama lain. Dimensi pertama adalah isi (content) yang terdiri dari figur, simbol, semantik, dan perilaku. Dimesi kedua adalah operasi, terurai dalam 5 proses yaitu kognisi, ingatan, produksi konvergen, produksi divergen, dan evaluasi. Dimensi ketiga adalah produk, terurai dalam 6 jenis yaitu satuan, kelas, relasi, sistem, transformasi dan implikasi. Dengan demikain menurut masing-masing dimensi terdapat 120 macam kombinasi yang merupakan faktor berlainan.


C. Halstead
Pendekatan yang digunakan dalam teori ini adalah neurobiologis. Ada 4 faktor inteligensi, yaitu : a.) Faktor Central Integrative (C) à kemampuan untuk mengorganisasikan pengalaman, b.) Faktor Abstraction (A) à merupakan kemampuan mengelompokkan sesuatu dengan cara-cara yang berbeda, dan kemampuan untuk melihat kesamaan dan perbedaan., c.) Faktor Power (P) à merupakan kekuatan otak, daiantaranya adalah kemampuan mengekang afeksi sehingga kemampuan relasional dan intelektual dapat tumbuh berkembang., d.) Faktor Directional (D) à kemampuan memberikan arah dan sasaran bagi kemampuan individu.

D.O. Hebb
Inteligensi dibedakan atas 2 macam yaitu :  Inteligensi A (merupakan kemampuan dasar manusia untuk belajar dari lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut, dipengaruhi oleh gen) dan Inteligensi B (merupakan tingkat kemampuan yg diperlihatkan oleh seseorang dalam bentuk perilaku yang dapat diamati secara langsung, merupakan kemampuan aktual). Apabila membicarakan masalah IQ maka membicarakan masalah inteligensi yang merupakan bagian dari inteligensi B.

R.B Cattel
Cattel mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi 2 macam yaitu:
·         Inteligensi fluid (gf) à faktor bawaan biologis, tidak berubah setelah usia 14-15 tahun
·         Inteligensi crystallized (gc) à merefleksikan pengaruh pengalaman, pendidikan, dan kebudayaan, masih terus berkembang sampai usia 40-50 tahun.

Jean Piaget
Menekankan pada aspek perkembangan kognitif, anak yg berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif. Piaget lebih melihat inteligensi pada aspek isi, struktur dan fungsinya, sesuai dengan periodisasi perkembangan biologis anak. Periodisasi ini terbagi atas :
·         Tahap sensori motor
Dikenal juga sebagai practical intelligence. Seorang anak dapat belajar untuk berbuat sesuatu meski ia belum mampu memikirkan perbuatan itu.
·         Tahap pra operasional
Adanya cara berfikir intuitif à memungkinkan anak memahami berbagai tugas kompleks, namun belum mampu gunakan logika. Cara berfikir egosentris à tdk mampu lihat masalah dari sudut pandang orang lain. Cenderung menempatkan sifat manusia pada benda mati. Masih diperlukan petunjuk eksternal yang membimbing untuk melakukan tugas tertentu.
·         Tahap operasional konkret
Bentuk operasi nyata dalam tahap ini adalah konversi (perubahan dapat terjadi secara bolak-balik) dan klasifikasi (mampu melihat bermacam hubungan yang terjadi antar benda dan melakukan penggolongan).
·         Tahap operasional formal
Mampu berpikir hipotetik dan mampu menguji secara sistematik berbagai penjelasan mengenai kejadian tertentu. Mampu berpikir secara abstrak.



 
Howard Gardner
Merumuskan teori inteligensi ganda (multiple intelligence), mengidentifikasi 8 macam inteligensi yaitu :
·         Inteligensi linguistik
·         Inteligensi matematik-logis
·         Inteligensi spasial
·         Inteligensi musik
·         Inteligensi kinestetik
·         Inteligensi interpersonal
·         Inteligensi intrapersonal
·         Inteligensi naturalistik

Robert J. Sternberg
Terkenal dengan teori inteligensi triarchic, berusaha menjelaskan secara terpadu hubungan antara : a.) Inteligensi dengan dunia internal seseorang/mekanisme mental yang mendasari perilaku intelegen., b.) Inteligensi dengan dunia eksternal seseorang/mekanisme mental sehari-hari guna mencapai kesesuaian dengan lingkungan., c.) Inteligensi dan pengalaman, atau peranan perantara antara dunia internal dan eksternal. Subteori dalam teori tsb adalah konteks, pengalaman dan komponen. Konteks à perilaku inteligen sesuai budaya tertentu, Pengalaman à kemampuan individu dalam memberikan respon terhadap situasi baru, Komponen à pentingnya efektivitas pengolahan informasi.
Komponen inteligensi manusia terorganisasikan atas metakomponen, komponen performansi, komponen penerimaan pengetahuan.






C. IQ (INTELLIGENCE QUOTIENT)
            Tinggi rendahnya inteligensi dapat dilihat dengan menterjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka, sehingga dapat dijadikan petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma.
            Angka normatif dari hasil tes inteligensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan disebut Intelligence Quotient (IQ). Istilah Intelligence Quotient diperkenalkan pertama kali oleh William Stern pada tahun 1912. Rumus awal (dihitung dr hasil tes BINET) :
IQ= MA/CA x 100

MA = usia mental
CA  = usia kronologis
100  = angka konstan untuk menghindari bilangan desimal

            Karena adanya keterbatasan validitas utk usia dewasa, muncul perumusan IQ deviasi yang dihitung berdasarkan norma kelompok (dilakukan pada Skala Weschler). Rumusnya :
Skor standar=m+s [(X-M)/sx]

m = skor standar yg diinginkan
s  = deviasi standar yg diinginkan
X  = skor mentah yg akan dikonversikan
M = mean distribusi skor mentah yg diperoleh
sx = deviasi standar skor mentah yg diperoleh

            Selama berpuluh tahun, angka 100 telah ditetapkan sebagai mean IQ, hal tersebut diambil untuk melanjutkann kebiasaan menafsirkan IQ 100 sebagai pertanda tingkat inteligensi normal. Wechsler menggunakan mean sebesar 100 dan SD=15, sedangkan tes Binet menggunakan mean=100, SD=16.
           




            Berikut merupakan distribusi IQ untuk kelompok pada tes Binet :
IQ
Klasifikasi
160-169
150-159
140-149
Sangat Superior
130-139
120-129
Superior
110-119
Rata-rata atas
100-109
90-99
Rata-rata
80-89
Rata—rata bawah
70-79
Borderline
60-69
50-59
40-49
30-39
Mentally retarded


            Berikut merupakan distribusi IQ pada tes Wechsler :
KLASIFIKASI
:
IQ
Very Superior
:
>130
Superior
:
120 - 129
Rata - Rata Atas
:
110 - 119
Rata - rata
:
90 - 109
Rata - rata Bawah
:
80 -  89
Boderline
:
70 - 79
Mentally retarded
:
< 69



D. SEJARAH PENGUKURAN INTELIGENSI
            Adanya kesadaran untuk memperlakukan manusia secara individual sesuai dengan kapasitas dan potensinya masing-masing dalam pendidikan dan pekerjaan membuat pengukuran inteligensi dirasakan sangat penting (Azwar, 2004). Upaya untuk melakukan pengukuran inteligensi telah dimulai oleh beberapa pihak di beberapa negara.

Pengukuran Inteligensi di Cina
            Di Cina, pada abad XIV muncul adanya usaha untuk mengukur kompetensi pelamar jabatan pegawai negara. Untuk dapat diterima, pelamar harus mengikuti ujian tertulis mengenai pengetahuan Confucian classics, kemampuan menulis puisi, dan komposisi karangan. Ujian ini berlangsung sehari semalam di tingkat distrik. Kurang dari 7% pelamar yang biasanya lulus tingkat distrik kemudian harus mengikuti ujian berikutnya yang berupa menulis
prosa dan sajak. Pada ujian kedua, kurang dari 10% peserta yang lulus. Ujian tingkat akhir diadakan di Peking, dan hanya 3% yang lulus pada ujian tersebut. Sehingga dari ketiga tahap ujian tersebut hanya 5 diantara 100.000 pelamar yang akhirnya mencapai status mandarin. Baru pada abad XIX ujian semacam itu mulai dihilangkan sejalan dengan pesatnya kemajuan universitas-universitas (Azwar, 2004).

Pengukuran Inteligensi oleh Cattel di Amerika
            Pada belahan bumi yang lain, usaha pengukuran intelegensi berkembang dalam kurun waktu yang kurang lebih serempak di Amerika Serikat dan Perancis. Di Amerika, usaha pertama tersebut dimulai oleh tokoh pencetus istilah “tes mental”, yaitu James McKeen Cattell (1860-1944) yang menerbitkan buku mental test and measurements di tahun 1890. Buku tersebut berisi serangkaian tes intelegensi yang terdiri atas 10 jenis ukuran, yaitu:
1)      Dinamometer pressure, yaitu ukuran kekuatan tangan menekan pegas yang dianggap sebagai indikator aspek psikofisiologis.
2)      Rate of movement, yaitu kecepatan gerak tangan dalam satuan waktu tertentu yang dianggap memiliki komponen mental didalamnya.
3)      Sensation areas, yaitu pengukuran jarak terkecil diantara 2 tempat yang terpisah di kulit yang masih dapat dirasakan sebagai 2 titik berbeda.
4)      Pressure causing pain, yaitu pengukuran yamg dianggap berguna dalam diagnosis terhadap penyakit saraf dan dalam mempelajari status kesadaran abnormal.
5)      Least noticabele difference in weight, yaitu pengukuran perbedaan berat yang terkecil yang masih dapat dirasakan seseorang.
6)      Reaction time for sound, yang mengukur waktu antara pemberian stimulus dengan timbulnya reaksi tercepat.
7)      Time for naming colors, yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap proses yang lebih ”mental” daripada waktu-reaksi yang dianggap reflektif.
8)      Bisection of a 50-cm line, yang dianggap sebagai suatu ukuran terhadap akurasi “space judgment”.
9)      Judgment of 10 second time, yang dimaksudkan sebagai ukuran akurasi dalam “time judgment” (subjek diminta menghitung 10 detik tampa bantuan apapun).
10)  Number of letters repeated upon once hearing, yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap perhatian dan ingatan (subjek diminta mengulang huruf yang sudah disebutkan 1x).

Pengukuran Inteligensi di Perancis (Skala Binet-Simon)
            Di Perancis, Alfred Binet direktur laboratorium di Universitas Sorbonne memulai suatu usaha pengukuran inteligensi dengan menggunakan metode Paul Broca, yaitu dilakukan dengan cara mengukur lingkaran tempurung anak-anak (metoda kraniometri). Cara tersebut selanjutnya diragukan dan pada tahun 1904 Binet kembali memulai usaha pengukuran inteligensi, namun Binet tidak lagi menggunakan pendekatan kraniometri namun membuat alat baru yang dirancang untuk mengukur ketajaman bayangan, ketahanan dan kualitas perhatian, ingatan, kualitas penilaian moral dan estetika, dan kecakapan kesalahan logika serta memahami kalimat-kalimat. Hal tersebut dilakukan karena adanya kebutuhan yang mendesak saat Ia diminta oleh menteri Pengajaran Umum Perancis untuk meneliti masalah anak yang memiliki kelemahan mental di sekolah-sekolah di Paris. Apabila anak-anak tersebut dapat dideteksi keadaannya lebih awal maka dapat disediakan program khusus yang lebih efektif (Azwar, 2004).
            Skala inteligensi yang pertama tersebut diciptakan oleh Binet dan dokter sejawatnya Theodore Simon. Skala Binet-Simon seringkali dikenal dengan nama Skala 1905 terdiri atas 30 soal. Pada perkembangannya skala Binet-Simon direvisi beberapa kali, yang kedua dilakukan pada tahun 1908 dengan memperbanyak soal dan membuang soal yang kurang baik serta dikelompokkan menurut tingkat usia. Skala 1908 tersebut banyak dibaca dan menarik perhatian para ahli di dunia dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Revisi ketiga terbit pada tahun 1911, pada tahun kematian Binet. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1916 Lewis Madison Terman di Stanford University Amerika melakukan revisi dengan menambah jumlah soal menjadi 90 soal dan mencakup tes untuk usia 3-14 tahun. Sejak itu skala Stanford-Binet menjadi standar dalam Psikologi klinis, psikiatri dan konseling pendidikan.
            Adanya kelemahan pada dasar pembuatan norma penilaian yang dilakukan Terman, pada tahun 1937 Terman dan Maude A. Merril bekerjasama melakukan revisi untuk menegakkan normanya. Edisi ini diperluas penggunaannya meliputi usia 2 tahun sampai pada tingkat yang disebut Dewasa-Superior I, II dan III. Revisi penting selanjutnya terjadi pada tahun 1960 dimana mulai digunakan konsep IQ-deviasi dari Wechsler, dengan cakupan angka mulai 30-170. Mean sebesar 100 dan deviasi standar sebesar 15 atau 16. Kemudian skala Stanford-Binet yang semula terdiri dari dua bentuk paralel yaitu form L dan form M dijadikan hanya satu bentuk saja yang dinamai Form L-M. Sementara versi terbaru Skala Stanford Binet yang hingga kini kita gunakan adalah skala yang diterbitkan pada tahun 1986 (Azwar, 2004). Pada revisi di tahun 1986 terhadap skala Stanford binet, konsep inteligensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes, yaitu: penalaran verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak dan memori jangka pendek.

Skala-skala Wechsler
            Setelah 34 tahun diterbitkanya tes intelegensi yang pertama oleh Binet-Simon, David Wechsler memperkenalkan versi 1 tes intelegensi yang dirancang khusus untuk digunakan orang dewasa. Tes tersebut terbit pada tahun 1939 dan dinamai Wechsler-Bellevue intelegent scale (WBIS), disebut juga skala W-B. Terbitnya skala tersebut mulanya digunakan pada pasien klinis di Rumah Sakit Bellevue New York City. Alasan pengembangan didasarkan atas kenyataan bahwa tes intelegensi yang digunakan untuk orang dewasa saat itu hanya merupakan perluasan dari tes intelegensi untuk anak-anak- dengan menambahkan soal yang sejenis yang lebih sukar. Sehingga isi tesnya seringkali tidak menarik minat dan perhatian orang dewasa. Pada tahun 1949 Wechsler menerbitkan pula skala intelegensi untuk digunakan pada anak-anak, yang diberi nama WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) yang terdiri dari dua sub bagian yaitu sub bagian Verbal (V) dan Performance(P). Pada tahun 1955, Wechsler menyusun skala lain untuk mengukur inteligensi orang dewasa yang dinamai WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) yang berisi 11 subtes terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama adalah skala verbal yang berisi 6 subtes, dan bagian kedua adalah skala performansi yang berisi 5 subtes.

Tes Inteligensi Kelompok
            Sejalan dengan perkembangan tes intelegensi individual yaitu yang dikenakan pada subjek secara individual, mulai pula dirasakan perlunya tes intelegensi yang dikenakan pada sekelompok individu secara serentak atau tes kelompok. Tes intelegensi kelompok dapat dikenakan dengan cepat dan diskor serta dapat diinterpretasikan dengan cepat pula mulai dirancang oleh para ahli. Seperti halnya penyusuna Skala Binet-Simon yang pertama, penyusunan tes inteligensi kelompok juga dipicu oleh kebutuhan praktis yang mendesak di masa perang dunia I. Pada waktu itu APA (American Psychological Association) membentuk komite untuk mencari cara agar psikologi dapat memberikan bantuan bagi Amerika dalam perang. Robert M. Yerkes kepala komite tersebut membantu untuk mengatasi kebutuhan akan cara klasifikasi yang cepat terhadap tenaga wajib militer menurut tingkat inteligensi umum mereka. Arthur S. Otis yang merupakan mahasiswa dari Terman berkontribusi besar dalam penyusunan dua bentuk tes inteligensi yang dapat dikenakan pada banyak subjek sekaligus. Tes pertama dirancang untuk tes inteligensi rutin yang dinamai Army Alpha. Tes kedua berupa skala non verbal yang dirancang bagi individu buta huruf dan wajib militer yang bukan kelahiran Amerika, yang dinamai Army Beta.

E.  FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTELIGENSI
            Seperti halnya atribut lain dalam diri manusia, faktor yang menentukan inteligensi juga menuai kontroversi. Apakah inteligensi ditentukan faktor bawaan (genetik) atau faktor lingkungan? Pada dasarnya kedua faktor tersebut memiliki pengaruh terhadap inteligensi seseorang :
·         Faktor bawaan atau keturunan
            Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga   sekitar 0,50,  sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQ nya      sangat tinggi, mencapai sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang         di adopsi. IQ mereka berkorelasi antara 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu           yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya.      Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ            mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mereka tidak pernah            saling kenal (Azwar, 2004).
·         Faktor Lingkungan
Meskipun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, namun lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Intelegensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

F. RAGAM TES INTELIGENSI
            Menurut banyaknya testee, tes inteligensi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu tes inteligensi individual dan tes inteligensi klasikal. Tes inteligensi individual diadministrasikan secara individual sehingga sangat berguna untuk studi yang mendalam tentang seseorang, namun demikian membutuhkan waktu yang cukup panjang (biasanya sekitar 2 jam) serta biaya yang cukup besar untuk penyajiannya. Untuk dapat mencapai hasil tes yang valid, tes individual membutuhkan tester yang handal dan terlatih. Tes inteligensi kelompok dapat diadministrasikan dalam kelompok, sehingga dapat dikenakan dengan cepat dan dapat diskor dan diinterpretasikan dengan cepat. Selain itu tes inteligensi juga dapat dikategorikan menurut usia testee, yaitu tes inteligensi anak dan tes inteligensi dewasa.
            Berikut merupakan beberapa macam alat tes inteligensi ditinjau dari jenis penyajian dan             peruntukannya :
·         Tes inteligensi individual untuk subjek anak
Stanford-Binet Intelligence Scale
Wechsler Inteligence scale for children-revised/WISC-R
Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI)
            Kauffman Assesment Battery for Children (K-ABC)
            Kaufman Brief Inteligence Test (K-BIT)
·         Tes inteligensi individual untuk subjek dewasa
            Wechsler adult intelligence scale revised (WAIS-R)
            Wechsler Bellevue Intelligence Scale (WBIS)
            Kaufman Adolesent And Adult Inteligence Test (KAIT)
            Kaufman Brief Inteligence Test (K-BIT)
·         Tes inteligensi klasikal/kelompok untuk anak-anak
Coloured Progressive Matrices (CPM)
·         Tes inteligensi klasikal/kelompok untuk subjek dewasa
            Standard progressive Matrices (SPM)
            Advanced Progressive Matrices (APM)
            Culture Fair Intelligence Test (CFIT)
            Intelligence Structure Test (IST)
            Tes Inteligensi Umum (TIU) 5, 6
            Tes Inteligensi Kolektif Indonesia (TIKI)
            Wonderlich Personnel Test (WPT)
            Bernard Leopold Intelligence Test (BLIT)
            Army Alpha
            Army Beta
            Beta 3
            Tes Kemampuan Diferensial (TKD)
            Tes Inteligensi Umum (TINTUM)
            Tes Inteligensi Dewasa Indonesia (TIDI)
           

           
           

REFERENSI
Azwar, S. (2004). Pengantar psikologi inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gregory, R.J.(2013). Tes psikologi: Sejarah, prinsip, dan aplikasi jilid 1 edisi keenam (penerjemah Amitya Kumara). Jakarta: Erlangga

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar